Pangkalpinang, INC,. -Bulan Ramadan seharusnya menjadi waktu untuk menahan lapar dan menjaga kesabaran. Namun tahun ini masyarakat juga dihadapkan pada ujian lain, yaitu pernyataan pejabat publik yang justru menimbulkan kekhawatiran.
Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel kembali memanas dan berpotensi memengaruhi stabilitas energi global. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, Indonesia tentu tidak sepenuhnya lepas dari dampaknya.
Dalam situasi seperti ini, masyarakat sebenarnya berharap mendapatkan informasi yang menenangkan. Namun pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyebut cadangan BBM nasional sekitar 20 hari justru memicu kekhawatiran. Bagi masyarakat awam, pernyataan tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa negara sedang menghadapi ancaman krisis energi.
Akibatnya, fenomena panic buying terjadi di berbagai daerah. Antrean panjang terlihat di sejumlah SPBU milik Pertamina karena masyarakat khawatir pasokan BBM akan langka. Kepanikan ini kemudian dimanfaatkan oleh oknum yang menimbun BBM dan menjualnya dengan harga lebih tinggi.
Di Kepulauan Bangka Belitung, kondisi ini terasa semakin ironis. Daerah yang dikenal sebagai negeri timah dengan sumber daya alam besar justru kerap menghadapi berbagai kelangkaan, mulai dari gas elpiji 3 kilogram hingga BBM. Situasi tersebut tidak hanya soal distribusi, tetapi juga menyangkut tata kelola dan stabilitas ekonomi daerah.
Masyarakat tentu berharap pemerintah lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi ke ruang publik. Komunikasi yang tidak utuh dapat menimbulkan spekulasi dan kepanikan. Di sisi lain, aparat penegak hukum juga perlu bertindak tegas terhadap praktik penimbunan yang merugikan masyarakat.
Pada akhirnya, masyarakat hanya membutuhkan dua hal dari pemerintah: komunikasi yang bijak dan kebijakan yang berpihak pada rakyat. Tanpa itu, kepanikan akan terus berulang setiap kali muncul isu terkait kebutuhan dasar.
Di negeri timah ini, kelangkaan seolah datang silih berganti. Sebuah ironi yang menjadi pengingat bahwa kekayaan sumber daya seharusnya mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakatnya.













