Mengenal Pohon Ipuh, Pohon Beracun,Asal Usul Nama Desa Talang Ipuh Kec Suak Tapeh Banyuasin

- Redaksi

Kamis, 7 Agustus 2025 - 09:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banyuasin,inewsnusantara.com,Ipuh, ipoh atau upas (Antiaris toxicaria) adalah sejenis pohon anggota suku Moraceae. Pada masa lalu, pohon ini sangat terkenal karena getahnya yang sangat beracun, yang digunakan untuk meracuni mata panah (Gr. toxicon: racun panah). Selain itu, ipuh juga menghasilkan serat dari pepagannya, yang digunakan sebagai bahan pakaian orang zaman dahulu.
Nama-nama lainnya di antaranya tengis, tatai, ketatai (Mly.); ancar, upas (Jw.); pancar, balung (Md.); ipo (Mak., Bug.); gado (Gal.).Nama marganya, Antiaris, berasal dari namanya dalam bahasa Jawa yang ditulis menurut ejaan lama: antjar.
Pohon berukuran sedang hingga besar; tinggi mencapai 45-60 m, batang bebas cabang hingga 23 m dan gemang batang hingga 180 cm; kadang-kadang dengan banir sempit setinggi 3 m. Pepagan putih keabu-abuan, halus dan sedikit memecah. Pepagan bagian dalam pucat kekuningan; lateksnya berwarna kuning krem, yang segera menjadi kecoklatan dan menggumpal berbutir bila kena udara.
Ranting-ranting tebalnya 2-3 mm, berambut abu-abu keputihan. Daun penumpu 3–4 mm, berambut kuning. Daun-daun tunggal, berseling, tebal seperti kertas, jorong lonjong, 6-20 × 3,6-8,5 cm; tulang daun sekunder berjumlah 8-14 pasang; ujung daun meruncing hingga membundar; tepinya rata; pangkalnya membundar, kadang-kadang seperti jantung, umumnya tak-simetris; bertangkai 2–10 mm, berambut kuning-jingga, beralur di sisi atasnya.


Bunga jantan dalam bongkol yang cekung, garis tengah lk. 1,25 cm, bertangkai 0,8 cm, berkumpul 2-4 bongkol sekali. Bunga betina tidak dalam bongkol, namun berkumpul di ketiak. Buah berbentuk pir, garis tengah lk. 1,25 cm, merah kemudian menghitam jika masak. Biji tunggal.
Ipuh menghasilkan kayu ringan yang dalam perdagangan digolongkan sebagai kayu terap. Densitas kayunya tercatat antara (250–)390 – 540 kg/m3 pada kadar air 15%. Kayu ini umumnya digunakan dalam konstruksi ringan, interior bangunan, furnitur, panil kayu, penutup lantai, kotak pengemas, venir, dan kayu lapis. Salah satu produsen kayu ipuh adalah Papua Nugini, yang pada 1996 tercatat mengekspor 6.570 m3.
Lateks yang dihasilkannya, pada salah satu forma sangat beracun, sementara pada forma yang lainnya kurang atau tidak beracun sama sekali. Pada masa silam, getah ipuh ini digunakan sebagai racun panah dalam peperangan, atau sebagai racun sumpit untuk berburu.Namun, getah yang dihasilkan oleh akar ipuh masih dipergunakan di pedalaman Kalimantan Barat untuk meracun ikan. Sesungguhnya, racun yang berasal dari akar ipuh tidak terlalu beracun apabila digunakan untuk memancing ikan. Karena, setelah ditangkap, ikan langsung dicuci dahulu sebelum dimanfaatkan. Pemerintah Kalimantan Barat, kini sudah melarang penggunaan ipuh untuk meracun ikan.
Pepagan ipuh menghasilkan bahan pewarna.Pepagan bagian dalam dari pohon yang muda, oleh orang-orang pedalaman diolah menjadi serat yang sifatnya menyerupai kain linen kasar.
Buahnya dapat dimakan. Biji, dan beberapa bagian tumbuhan yang lain digunakan sebagai bahan obat tradisional; biji ipuh dimanfaatkan sebagai anti-disentri.
Ipuh menghasilkan kayu ringan yang dalam perdagangan digolongkan sebagai kayu terap. Densitas kayunya tercatat antara (250–)390 – 540 kg/m3 pada kadar air 15%. Kayu ini umumnya digunakan dalam konstruksi ringan, interior bangunan, furnitur, panil kayu, penutup lantai, kotak pengemas, venir, dan kayu lapis. Salah satu produsen kayu ipuh adalah Papua Nugini, yang pada 1996 tercatat mengekspor 6.570 m3.
Lateks yang dihasilkannya, pada salah satu forma sangat beracun, sementara pada forma yang lainnya kurang atau tidak beracun sama sekali. Pada masa silam, getah ipuh ini digunakan sebagai racun panah dalam peperangan, atau sebagai racun sumpit untuk berburu.Namun, getah yang dihasilkan oleh akar ipuh masih dipergunakan di pedalaman Kalimantan Barat untuk meracun ikan. Sesungguhnya, racun yang berasal dari akar ipuh tidak terlalu beracun apabila digunakan untuk memancing ikan. Karena, setelah ditangkap, ikan langsung dicuci dahulu sebelum dimanfaatkan. Pemerintah Kalimantan Barat, kini sudah melarang penggunaan ipuh untuk meracun ikan.
Pepagan ipuh menghasilkan bahan pewarna.Pepagan bagian dalam dari pohon yang muda, oleh orang-orang pedalaman diolah menjadi serat yang sifatnya menyerupai kain linen kasar.
Buahnya dapat dimakan. Biji, dan beberapa bagian tumbuhan yang lain digunakan sebagai bahan obat tradisional; biji ipuh dimanfaatkan sebagai anti-disentri.
Ipuh adalah pohon hutan primer yang menyebar jarang-jarang hingga ketinggian 1.500 m dpl. Kadang-kadang ditemui di sabana berumput dan dataran tinggi pesisir. Di Afrika, ipuh juga tumbuh di daerah semi-arid.

Baca Juga :  Dua Bulan Siltap Belum Dibayarkan, Para Kades di Banyuasin Akan Datangi BPKD

Pohon ini diketahui menyebar luas mulai dari Afrika Barat, Madagaskar, India, Srilanka, Tiongkok selatan, Indochina, melintasi Nusantara hingga ke Pasifik (sampai ke Fiji dan Tonga) dan Australia utara.
Kerajaan: Plantae
Klad:TracheophytaKlad:AngiospermaeKlad:EudikotilKlad:RosidOrdo:
Rosales
Famili: Moraceae
Tribus: Castilleae
Genus: Antiaris
Lesch. Spesies: A. toxicaria
Nama binomialAntiaris toxicaria
(narasi : Wikipedia), foto: digitaldome

Baca Juga :  Kades Pagar Bulan Kurnaidi Ucapkan Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila

Berita Terkait

Kapolres OKI Sambangi Warga Cokro, Perkuat Kedekatan dengan Masyarakat
Polres OKI Tanamkan Kepedulian Lingkungan, Siswa TK Belajar Bahaya Karhutla
Dinkes OKI Sepakati MoU RSUD Kayu Agung Dengan Puskesmas
Polsek Rambutan Amankan Pria Diduga Pengedar Sabu, 11 Paket Barang Bukti Disita
Cegah Kemacetan Pagi, Kapolsek Gerunggang Kerahkan Personel di Dua Titik Strategis
102 Pelaku Ekraf Pangkalpinang Dilatih Bikin Konten Digital, Prof Udin Apresiasi Kementerian Ekraf
Pangkalpinang Siapkan Gema Ekraf 2027, Yan Rizana Dorong UMKM Naik Kelas
HAMASS Akan Kembali Demo Oknum Sekretaris Dinkes OKl

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:36 WIB

Kapolres OKI Sambangi Warga Cokro, Perkuat Kedekatan dengan Masyarakat

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:24 WIB

Polres OKI Tanamkan Kepedulian Lingkungan, Siswa TK Belajar Bahaya Karhutla

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:59 WIB

Dinkes OKI Sepakati MoU RSUD Kayu Agung Dengan Puskesmas

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Polsek Rambutan Amankan Pria Diduga Pengedar Sabu, 11 Paket Barang Bukti Disita

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:25 WIB

Cegah Kemacetan Pagi, Kapolsek Gerunggang Kerahkan Personel di Dua Titik Strategis

Berita Terbaru

Daerah

Dinkes OKI Sepakati MoU RSUD Kayu Agung Dengan Puskesmas

Selasa, 27 Okt 2026 - 17:59 WIB