Bangka Belitung, INC,. — Rapat bersama antara DPRD Kepulauan Bangka Belitung dan pihak Pertamina memunculkan berbagai sorotan tajam terkait distribusi BBM dan LPG di lapangan, khususnya di Pulau Belitung.
Dari pihak Pertamina, Perwira menyampaikan bahwa program One Outlet One Village (OTOV) telah direalisasikan di seluruh desa, sehingga setiap desa kini telah memiliki pangkalan LPG. Ia menegaskan bahwa secara umum tidak ada kelangkaan gas di lapangan.
“Kalau kita lihat di lapangan, LPG itu banjir. Bahkan bisa sampai tiga hari baru stok habis,” ujarnya.
Namun, temuan di lapangan justru menunjukkan potensi penyalahgunaan. Dalam sidak di salah satu kafe, ditemukan sebanyak 19 tabung LPG. Kasus ini langsung diarahkan ke penggunaan Bright Gas, dan keesokan harinya pihak terkait disebut langsung turun ke lokasi untuk tindak lanjut.
Terkait praktik pengisian BBM menggunakan jeriken tanpa pelat nomor kendaraan, pihak Pertamina mengakui hal tersebut menjadi persoalan kompleks. “Ini menyangkut perut masyarakat,” kata Perwira. Meski begitu, langkah pengawasan telah dilakukan dengan pemasangan CCTV di SPBU serta kerja sama dengan aparat penegak hukum (APH). Pengumuman dan sanksi juga telah dipasang di SPBU untuk menekan pelanggaran.
Sementara itu, perwakilan Pertamina lainnya, Agung, memastikan stok BBM di Belitung dalam kondisi aman. “Tidak ada kendala. Stok kita berkisar 3 hingga 5 hari,” jelasnya. Ia juga menyebut adanya rencana pengembangan terminal oleh anak usaha Pertamina, yakni Elnusa, yang ditargetkan mampu meningkatkan kapasitas hingga tiga kali lipat, bahkan di atas 10 hari stok. Proyek ini diperkirakan terealisasi pada akhir tahun.
Meski demikian, anggota Komisi III DPRD Babel tetap melontarkan sejumlah pertanyaan kritis.
Taufik R, mempertanyakan dampak konflik global terhadap pasokan energi di daerah. “Bagaimana dampak perang Amerika-Israel versus Iran terhadap Babel, khususnya Belitung?” ujarnya. Ia juga menyoroti kemungkinan perlunya penambahan agen LPG di wilayah yang masih kosong.
Syarifah juga mempertanyakan strategi, peningkatan ketahanan stok BBM di Belitung hingga minimal tujuh hari. Ia juga menyinggung dampak konflik global terhadap harga BBM, serta kasus pencemaran di SPBU Kejora yang berdampak pada sekitar 20 kepala keluarga.
“Ada warga sampai mandi pakai air galon. Ini harus ada solusi konkret,” tegasnya.
Sementara itu, Johan mengungkap temuan di lapangan yang cukup mengkhawatirkan. Ia menyebut BBM di sejumlah SPBU sudah habis sebelum pukul 12 siang.
“Jangan-jangan ada permainan antara pemegang stik dan manajemen BBM?” tegasnya.
Berbagai persoalan ini menunjukkan, bahwa meskipun secara data distribusi energi dinyatakan aman, pengawasan di lapangan masih menjadi pekerjaan rumah besar. DPRD Babel pun mendesak adanya evaluasi menyeluruh agar distribusi BBM dan LPG benar-benar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.













