Oleh: Zahratul Jannah – Mahasiswa Universitas Bangka Belitung
Pangkalpinang,inewsnusantara.com,-Pembukaan Festival Ekonomi Kreatif (Ekraf) perdana di Kota Pangkalpinang pada 9 Mei 2025 lalu menandai babak baru dalam pembangunan ekonomi daerah yang berbasis inovasi dan budaya. Diselenggarakan di jantung kota, Alun-alun Taman Merdeka, acara ini tak sekadar ajang pameran kreativitas, tetapi juga langkah strategis menuju penguatan identitas kota dan diversifikasi ekonomi.
Seperti yang disampaikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Juhaini, Kota Pangkalpinang telah ditetapkan sebagai kota kreatif dengan kuliner—terutama otak-otak khas Pangkalpinang—sebagai subsektor unggulan. Ini bukan pencapaian biasa. Pengakuan sebagai kota kreatif menunjukkan bahwa Pangkalpinang memiliki modal budaya dan sosial yang cukup kuat untuk menjadi pusat pertumbuhan baru di luar sektor konvensional.
Mengapa Festival Ini Penting?
Kehadiran Festival Ekraf ini penting setidaknya dalam tiga aspek:
Pertama, festival ini memberi ruang bagi 17 subsektor ekonomi kreatif untuk tampil dan berkembang. Dari kuliner, kriya, fesyen, hingga pengembangan aplikasi dan game, semuanya membuka peluang baru bagi masyarakat—terutama generasi muda—untuk masuk dalam dunia ekonomi berbasis ide dan inovasi.
Kedua, ekonomi kreatif menawarkan pendekatan pembangunan yang berkelanjutan. Dibandingkan dengan industri ekstraktif atau berbasis sumber daya alam yang terbatas, ekonomi kreatif mengandalkan kekayaan budaya dan kreativitas manusia—sumber daya yang bisa terus diperbarui dan dikembangkan.
Ketiga, festival ini punya kekuatan membangun citra positif kota. Kota yang memposisikan diri sebagai pusat kreativitas dan kolaborasi akan lebih menarik bagi investor, wisatawan, dan penduduk baru. Identitas sebagai kota kreatif adalah aset branding yang kuat dalam era ekonomi global.
Tantangan: Jangan Hanya Seremonial
Namun tentu saja, tantangan ke depan tidak kecil. Festival jangan berhenti menjadi acara seremonial tahunan. Pemerintah kota perlu mengubah semangat festival menjadi kebijakan yang konsisten dan berdampak. Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan antara lain:
• Membentuk pusat inkubasi ekonomi kreatif,
• Meningkatkan akses permodalan dan pelatihan kewirausahaan,
• Menyediakan ruang publik dan digital yang mendukung kolaborasi antar pelaku industri kreatif,
• Mendorong kemitraan antara pelaku UMKM, kampus, komunitas, dan sektor swasta.
Tanpa langkah-langkah ini, ekraf bisa kehilangan momentumnya, dan festival hanya menjadi simbol tanpa isi.
Penutup
Festival Ekraf Pangkalpinang 2025 adalah awal yang menjanjikan. Kota ini memiliki potensi besar untuk menjadi episentrum ekonomi kreatif di Sumatera dan bahkan nasional, asalkan ada keberlanjutan visi, kebijakan yang proaktif, dan kemauan untuk membangun ekosistem kreatif yang kuat.
Ekonomi masa depan bukan lagi soal siapa punya tambang paling banyak, melainkan siapa yang paling kreatif dan mampu membangun nilai tambah dari identitas lokalnya. Dan Pangkalpinang sedang menuju ke sana.













