Bangka, inewsnusantara.com– Bunyi siung, yang selama ini menjadi penanda waktu sahur dan berbuka puasa, kini tidak hanya dibunyikan oleh PT Timah, tetapi juga oleh brandweer swasta serta beberapa masjid di Bangka. Tradisi ini terus dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya yang mengingatkan masyarakat akan sejarah pertambangan timah di daerah tersebut.
Budayawan Elvian menyampaikan harapannya agar bunyi siung tetap menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Bangka. Menurutnya, siung tidak sekadar sebagai penanda waktu berbuka dan sahur, tetapi juga simbol peradaban yang menunjukkan bagaimana timah telah membentuk sejarah dan budaya masyarakat setempat.
“Seiring dengan bergantinya waktu, dari bulan Ramadan ke bulan Syawal, dan begitu seterusnya sesuai zamannya, siung akan terus menjadi bagian dari sejarah puasa di Bangka,” ujar Elvian.
Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa di tengah kemajuan teknologi digital, bunyi siung mungkin suatu saat akan tergantikan oleh metode yang lebih modern. “Sedih rasanya jika suatu hari nanti bunyi siung menghilang. Mudah-mudahan siung maghrib nanti bukan menjadi siung terakhir bagi kita,” tambahnya.
Hingga saat ini, PT Timah masih setia membunyikan siung di berbagai wilayah operasionalnya, termasuk di Kota Pangkalpinang, Mentok, Belitung, dan Belitung Timur. Tradisi ini diharapkan dapat terus bertahan sebagai bagian dari warisan budaya yang menghubungkan masyarakat dengan sejarah panjang pertimahan di Bangka.













