Babel, INC. — Antrean panjang kendaraan, di sejumlah SPBU hingga meluber ke pinggir jalan memicu keresahan masyarakat Bangka Belitung. Kondisi ini tak hanya menyulitkan warga mendapatkan BBM, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas ekonomi sopir lintas, pedagang, nelayan hingga petani.
Keluhan tersebut, disampaikan masyarakat dalam audiensi bersama DPRD Babel, Selasa (27/10/2026). Warga menyoroti keterbatasan kuota, jauhnya akses SPBU, hingga harga BBM eceran yang mencapai Rp17.000 per liter di wilayah Tempilang.
Dampaknya, sopir lintas yang sebelumnya mampu melakukan hingga lima perjalanan kini hanya sekitar dua perjalanan. Sementara pedagang harus menanggung kenaikan biaya pengiriman barang akibat sulitnya memperoleh BBM.
Masyarakat mendesak adanya penambahan kuota, perpanjangan jam operasional SPBU, serta jalur khusus bagi nelayan dan petani agar distribusi BBM bersubsidi lebih tepat sasaran.
Menanggapi keluhan tersebut, Ketua DPRD Babel Didit Srigusjaya mengakui kondisi antrean BBM sudah menjadi persoalan yang perlu segera dicarikan jalan keluar. Ia mengingatkan, jika terus dibiarkan, persoalan tersebut berpotensi berkembang menjadi masalah sosial.
“Ini menurut kita sudah di luar batas kewajaran. Kalau ini dibiarkan, saya khawatir ini akan menjadi masalah sosial di Bangka Belitung,” tegas Didit.
Sebagai tindak lanjut, DPRD Babel menjadwalkan pertemuan lanjutan bersama pihak terkait pada Kamis (29/10/2026) untuk membahas langkah penyelesaian persoalan distribusi dan ketersediaan BBM di Bangka Belitung.












