Bangka Barat, INC. – Penutupan pelatihan TMT budidaya kopi di SMK Negeri 1 Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, Rabu (14/10/2026), menjadi langkah awal mendorong lahirnya peluang ekonomi baru bagi masyarakat Bangka Belitung.
Ustad Zuhri menegaskan, pelatihan tidak boleh berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi harus berlanjut menjadi gerakan nyata menanam kopi dan membangun kemandirian ekonomi daerah.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi Gerakan Petani Muda Nusantara (GERTANUSA) dengan Kementerian Ketenagakerjaan melalui BPVP Belitung, bersama SMK Negeri 1 Kelapa dan dukungan mitra pelatihan. Acara tersebut dihadiri Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kepala sekolah, serta para guru SMKN 1 Kelapa. Pelatihan selama 12 hari ini membekali peserta dengan pengetahuan budidaya kopi sekaligus membuka wawasan tentang potensi ekonominya.
Menurut Ustad Zuhri, kebutuhan kopi yang besar dapat menjadi peluang bagi Bangka Belitung untuk mengembangkan sektor pertanian di luar komoditas yang selama ini diandalkan, seperti kelapa sawit.
Dengan budidaya yang tepat, kopi berpotensi menjadi sumber pendapatan baru sekaligus bagian dari konsep kelekak yang mengangkat potensi lokal dan keberlanjutan lingkungan.
“Kalau kita mulai dari sekarang, insyaallah beberapa tahun ke depan Bangka Belitung bisa memiliki kopi sendiri. Kita ingin menuju swasembada kopi, dimulai dari masyarakat yang mau belajar, menyemai, dan menanam,” ujarnya.
Ia menekankan, keberhasilan pelatihan harus diukur dari keberlanjutan setelah kegiatan berakhir. Sejumlah peserta mulai merencanakan penyemaian bibit secara mandiri maupun berkelompok, sembari menyiapkan lahan untuk penanaman. Gertanusa juga mendorong, pendataan peserta dan masyarakat yang memiliki lahan serta berminat mengembangkan kopi agar pendampingan dapat dilakukan secara terarah.
Sebagai langkah awal, Ustad Zuhri menyampaikan target penyemaian sekitar 50.000 hingga 100.000 bibit kopi secara bertahap, seiring tumbuhnya kelompok-kelompok budidaya. Ia berharap, peserta dapat mengajak masyarakat di lingkungan sekitar untuk ikut menanam, sehingga gerakan ini berkembang dari skala kecil menjadi usaha pertanian yang berkesinambungan.
“Jangan sampai pelatihan selesai, lalu kegiatannya ikut berhenti. Kita ingin ilmu yang didapat benar-benar diterapkan kalau masyarakat sudah siap, punya keterampilan, dan mulai bergerak, pemerintah provinsi, kabupaten, maupun pusat akan lebih mudah memberikan dukungan yang berkelanjutan,” katanya.
Selain budidaya kopi, Ustad Zuhri menyebutkan kolaborasi program Kementerian Ketenagakerjaan melalui BPVP juga mencakup pelatihan hidroponik dan budidaya cabai. Program tersebut diharapkan mampu memperluas keterampilan masyarakat, membuka peluang usaha, serta memperkuat ketahanan ekonomi lokal.
Penutupan pelatihan TMT di SMKN 1 Kelapa ini menjadi pengingat, bahwa pembangunan ekonomi tidak cukup hanya dengan memberikan pelatihan.
Dibutuhkan keberanian untuk memulai, kemauan untuk bekerja bersama, dan pendampingan yang konsisten agar ilmu berubah menjadi penghasilan. Dari bibit kopi yang disemai hari ini, harapan menuju kemandirian ekonomi Bangka Belitung dapat mulai ditumbuhkan.












