Sidang Kasus Medis Anak di Pangkalpinang, Pemberian Dobu-Dopa Jadi Titik Krusial

- Redaksi

Minggu, 15 Februari 2026 - 20:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pangkalpinang, INC,. – Persidangan lanjutan perkara dugaan pelanggaran disiplin medis yang menyeret dr. Ratna Setia Asih kembali mengemuka di Pengadilan Negeri Pangkalpinang. Dalam sidang tersebut, keterangan para tenaga kesehatan menjadi sorotan, khususnya kesaksian dokter spesialis jantung dr Kuncoro Bayu terkait pemberian dobutamin dan dopamin (dobu-dopa) pada pasien anak berusia 10 tahun.

Di hadapan majelis hakim, saksi menjelaskan bahwa dirinya memiliki kewenangan menginstruksikan pemberian obat vasoaktif tersebut dengan merujuk pada panduan jantung nasional. Namun suasana sidang berubah ketika penasihat hukum membacakan isi panduan yang dinilai tidak secara tegas membolehkan penggunaan dobu-dopa pada pasien anak.

Saat dicecar pertanyaan, saksi mengaku tidak mengingat secara rinci isi panduan tersebut dan beralasan bahwa pemberian obat dapat dilakukan dengan perhitungan berat badan pasien. Ia juga mengakui telah mengetahui sejak awal bahwa pasien yang ditangani merupakan anak, bukan pasien dewasa.

Majelis hakim sempat menengahi perdebatan dengan menyatakan bahwa dokter spesialis jantung memiliki kompetensi dalam penanganan kasus jantung. Meski demikian, penasihat hukum menegaskan bahwa panduan pediatri memberikan batasan ketat terkait pemberian obat-obatan vasoaktif pada pasien anak, sehingga tidak dapat disamakan dengan penanganan pasien dewasa.

Baca Juga :  Agung Serap Aspirasi Warga Kenanga, Soroti Lampu Jalan dan Dugaan Pungli

Fakta persidangan mengungkap bahwa saksi merupakan spesialis jantung dewasa, bukan subspesialis jantung anak. Dalam konteks medis, pemberian dobu dan dopa pada pasien anak memerlukan pertimbangan usia dan protokol khusus, bukan semata-mata berdasarkan berat badan.

Penasihat hukum juga menyoroti potensi risiko tinggi dari penggunaan obat tersebut apabila tidak mengikuti panduan yang tepat. Dalam persidangan disebutkan bahwa tindakan medis yang keliru berpotensi memperburuk kondisi pasien hingga berujung pada henti jantung. Namun dalam perkara ini tidak pernah dilakukan visum menyeluruh untuk memastikan sebab kematian pasien, sehingga hubungan kausal tindakan medis dan akibat klinis menjadi perdebatan.

Selain itu, terungkap bahwa saksi mengikuti pemeriksaan di Majelis Disiplin Profesi melalui konferensi daring, berbeda dengan dokter lain yang hadir langsung. Ia menyatakan tidak ada putusan MDP yang menyebut adanya keterlambatan membawa pasien ke PICU maupun kesalahan dalam pemeriksaan medis.

Baca Juga :  Strategi Peningkatan Pendidikan Karakter Melalui Program Yasinan dan Do’a Bersama di Ma’had Al-Jami’ah IAIN SAS Babel

Dari seluruh dokter yang diperiksa, saksi menjadi satu-satunya yang menyatakan kondisi pasien sudah berada dalam status “garis merah”. Pernyataan tersebut justru memunculkan pertanyaan lanjutan di ruang sidang, terutama terkait langkah medis lanjutan dan koordinasi antardokter jika kondisi kritis tersebut telah teridentifikasi sejak awal.

Rentang waktu pelayanan sejak dini hari hingga pasien dinyatakan meninggal juga menjadi perhatian. Publik mempertanyakan mengapa analisa kondisi kritis tersebut tidak tercermin dalam tindakan kolektif tim medis maupun komunikasi intensif antardokter yang terlibat.

Persidangan perkara ini, masih akan berlanjut dengan agenda pemeriksaan saksi lainnya guna mendalami fakta-fakta medis yang menjadi inti sengketa. Kasus tersebut terus menyita perhatian publik karena menyangkut standar penanganan medis pada pasien anak.

Berita Terkait

Wali Kota Pangkalpinang : Bantuan Pangan untuk Ringankan Beban Warga dan Tekan Inflasi
Kapolsek Mendo Barat Bangga, Pos Satkamling “Toleransi” Kace Permai Wakili Polres Bangka
Polres Bangka Tertibkan Tambang Ilegal di DAS Jada Bahrin, Puluhan Ponton Dipasang Police Line
Satu Tahun Pos Toleransi Desa Kace, Densus 88 dan Warga Perkuat Benteng Anti Radikalisme
Izin FH Dicabut, Mahasiswa Sjakhyakirti Geruduk Rektorat: Tuntut Ganti Rugi dan Evakuasi Kampus!
Imam Wahyudi: Silaturahmi dan Berbagi Beras Bentuk Kepedulian PDI Perjuangan kepada Masyarakat
Pemkot Pangkalpinang Apresiasi PNM Dorong UMKM Naik Kelas, Wali Kota Ingatkan Bahaya Judol dan Pinjol Ilegal
Soroti Tambang Pondi, Imam Wahyudi : Masyarakat Jangan Hanya Jadi Penonton di Negeri Sendiri

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 15:04 WIB

Wali Kota Pangkalpinang : Bantuan Pangan untuk Ringankan Beban Warga dan Tekan Inflasi

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:34 WIB

Kapolsek Mendo Barat Bangga, Pos Satkamling “Toleransi” Kace Permai Wakili Polres Bangka

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:32 WIB

Polres Bangka Tertibkan Tambang Ilegal di DAS Jada Bahrin, Puluhan Ponton Dipasang Police Line

Sabtu, 23 Mei 2026 - 20:01 WIB

Izin FH Dicabut, Mahasiswa Sjakhyakirti Geruduk Rektorat: Tuntut Ganti Rugi dan Evakuasi Kampus!

Sabtu, 23 Mei 2026 - 18:03 WIB

Imam Wahyudi: Silaturahmi dan Berbagi Beras Bentuk Kepedulian PDI Perjuangan kepada Masyarakat

Berita Terbaru

Daerah

Polsek Pampangan Berhasil Amakan 2 Pelaku Curat

Minggu, 24 Mei 2026 - 19:45 WIB