OGAN ILIR -INC,-Sudah lebih dari dua minggu, jembatan plat besi di Desa Ketapang 2, Kecamatan Rantau Panjang, Ogan Ilir, jebol.
Jembatan yang menghubungkan Desa Ketapang II dengan Desa Tanjung Harapan di Kecamatan Tanjung Raja itu kini tak dapat dilalui kendaraan roda empat.
Sehingga membuat aktivitas perekonomian warga terhambat.
Informasi dari warga, jembatan tersebut mulai jebol pada Sabtu (27/12/2025).
“Banyak truk tonase muatan tinggi sering lewat jembatan. Beban berat itulah yang merusak jembatan,” terang seorang warga bernama Junaidi, Kamis (15/1/2026).
Hingga kini, kata Junaidi, belum ada tanda-tanda jembatan akan diperbaiki.
Saat ini, jembatan hanya bisa dilalui sepeda motor dan kendaraan roda tiga.
“Untuk kendaraan pengangkut hasil pertanian dan kebutuhan pokok terpaksa memutar jauh, lewat akses lain,” tutur Junaidi.
Ini bukan kali pertama jembatan di Ketapang II mengalami kerusakan cukup berat.
Sebelumnya, kerusakan serupa terjadi pada Januari dan Juni 2025 lalu.
“Perbaikan paling lama bertahan satu sampai dua bulan, habis itu rusak lagi. Kami sering viralkan di media sosial, tapi tetap saja tidak ada perbaikan permanen,” keluh Junaidi.
Mengingat jembatan tersebut termasuk ruas jalan provinsi, masyarakat meminta Pemprov Sumatera Selatan melakukan perbaikan secara permanen dan sesegera mungkin.
“Harus diperbaiki sungguh-sunguh. Jembatan ini sangat vital karena menjadi jalur alternatif utama antarwilayah dari OKI ke Palembang maupun sebaliknya,” ucap Junaidi.
Sementara itu, UPTD Jalan dan Jembatan Kabupaten Ogan Ilir dan OKI dari Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Tata Ruang (PUBMTR) Provinsi Sumatera Selatan mengonfirmasi bahwa kerusakan jembatan telah dilaporkan ke Pemprov Sumatera Selatan.
“Kerusakan jembatan plat besi di Desa Ketapang II sudah dilaporkan ke Pemprov Sumatera Selatan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat dapat segera diperbaiki,” tulis pernyataan dari UPTD Dinas PUBMTR Provinsi Sumatera Selatan.
Dijelaskan, jembatan tersebut hanya memiliki kapasitas beban maksimal lima ton.
Sementara itu, truk muatan yang biasa melintas diduga membawa muatan hingga belasan ton.
“Jembatan tidak kuat menahan beban tonase terlampau tinggi. Ke depan kami berharap ada kesadaran bersama untuk mencegah kendaraan bertonase tinggi melintas,” tutup keterangan tersebut.













