Pangkalpinang, INC,. – Densus 88 Antiteror Polri terus memperkuat upaya pencegahan penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) dengan menyasar kalangan pelajar.
Melalui Tim Pencegahan Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung, kegiatan Vaksinasi Sosialisasi Kebangsaan (Sosbang) digelar di SMP Negeri 1 Pangkalpinang dan diikuti sebanyak 1.020 siswa-siswi SMPN 1 se-Kecamatan Rangkui.
Kegiatan ini, bertujuan membangun ketahanan generasi muda agar mampu mengenali sekaligus menangkal berbagai bentuk penyebaran paham radikal yang kini semakin masif memanfaatkan ruang digital dan media sosial.
Kepala SMP Negeri 1 Pangkalpinang dalam sambutannya menegaskan, pentingnya membekali pelajar dengan wawasan kebangsaan, nilai-nilai Pancasila, serta kemampuan menyaring informasi di era digital. Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis sebagai penerus bangsa sehingga harus memiliki daya tangkal terhadap berbagai informasi yang bertentangan dengan ideologi negara.
Dalam sosialisasi tersebut, Tim Pencegahan Satgaswil Densus 88 AT Polri menyampaikan materi bertajuk “Radikalisasi Digital pada Anak: Ancaman Tersembunyi di Media Sosial dan Peran Pelajar dalam Pencegahan Paham IRET”.
Materi yang diberikan mencakup pengenalan paham IRET, ciri-ciri radikalisme, proses radikalisasi pada anak dan remaja, hingga berbagai modus perekrutan yang memanfaatkan media sosial dan platform digital.
Para peserta, juga diberikan pemahaman mengenai faktor-faktor yang membuat anak dan remaja rentan terpapar paham radikal.
Sejumlah contoh kasus perekrutan melalui media online, dipaparkan sebagai bentuk edukasi agar pelajar mampu mengenali propaganda dan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang menyesatkan.
Selain isu radikalisme, Densus 88 turut mengangkat bahaya perundungan atau bullying yang dinilai dapat memengaruhi kondisi psikologis pelajar.
Dalam sesi tersebut dijelaskan dampak perundungan, langkah yang harus dilakukan apabila menjadi korban maupun saksi, serta pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghormati.
Tim Pencegahan Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung, juga mengingatkan bahwa kelompok radikal kini semakin aktif memanfaatkan media online hingga permainan daring (online game) sebagai sarana perekrutan.
Sasaran utamanya adalah remaja, yang sedang berada pada fase pencarian jati diri, bahkan perempuan dan anak mulai dijadikan target maupun pelaku dalam aksi terorisme.
Tokoh Agama Kecamatan Rangkui, H. Samsudin, mengajak para pelajar untuk terus memperkuat wawasan kebangsaan, semangat nasionalisme, serta menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari.
Ia berharap, para siswa dapat menjadi agen perdamaian yang aktif mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.












