Bangka, INC,. – Tradisi adat Titang Tua, yang berasal dari masyarakat adat Mapur Pamong terus dijaga keberlangsungannya oleh para penerus leluhur. Salah satu tokoh yang masih mempertahankan tradisi tersebut adalah Pak Jahok, generasi kelima yang hingga kini tetap merawat dan melaksanakan warisan budaya tersebut. Senin (09/03/2026).
Pak Jahok menjelaskan bahwa, Titang Tua merupakan tradisi leluhur yang dilaksanakan saat peralihan musim barat menuju musim timur. Tradisi ini menjadi bentuk doa bersama sebelum memulai berbagai pekerjaan sebagai ungkapan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Menurutnya, kata “titang” sendiri berasal dari bahasa kuno yang bermakna doa atau permohonan. Tradisi ini diwariskan turun-temurun oleh para leluhur masyarakat Mapur Pamong sebagai bentuk spiritualitas yang menyatu dengan ajaran Islam.
“Titang itu sebenarnya bentuk doa menurut bahasa kuno leluhur kami. Jadi sebelum memulai pekerjaan, kami berdoa dulu. Leluhur kami juga menjelaskan asal-usulnya sampai kepada Nabi Muhammad, dan dengan syafaat beliau doa itu disampaikan kepada Yang Maha Kuasa,” ujar Pak Jahok.
Ia mengatakan bahwa dirinya, merupakan generasi kelima dari garis keturunan leluhur yang masih mengetahui secara runtut sejarah dan tata cara pelaksanaan tradisi tersebut.
“Tua itu artinya yang lama, dari orang-orang lama atau leluhur. Saya ini generasi kelima yang masih tahu runutnya dan berusaha mempertahankan tradisi ini,” katanya.
Pak Jahok juga mengungkapkan bahwa pelaksanaan Titang Tua, baru kembali dilaksanakan dalam tiga tahun terakhir setelah sebelumnya sempat lama tidak dilakukan oleh generasi sebelumnya.
“Baru tiga tahun ini kami bisa melaksanakan lagi. Dari generasi sebelum saya sebenarnya sudah ada, tapi baru sekarang bisa terealisasi kembali,” jelasnya.
Ia berharap tradisi Titang Tua dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Bangka Belitung, sebagai bagian dari kekayaan budaya tak benda yang memiliki nilai luhur.
“Harapan saya tradisi ini bisa dikenal oleh seluruh masyarakat Indonesia, terutama Bangka. Ini kekayaan budaya tak benda dan warisan ajaran budi luhur dari zaman dulu,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, tradisi Titang Tua tidak terikat dengan bulan tertentu. Tradisi ini dilaksanakan saat penghujung musim barat menuju musim timur, yang biasanya terjadi sekitar bulan Februari atau Maret.
Namun untuk tahun ini, pelaksanaan kegiatan disepakati pada tanggal 20 ini, karena bulan kemarin berdekatan dengan bulan puasa.
“Tidak harus bulan tertentu, yang penting di penghujung musim barat. Biasanya sekitar bulan dua atau tiga, jadi kami sepakat diundur tanggal 20,” katanya.
Dalam prosesi adat tersebut terdapat sajian khas yang disebut Bu Idang, yaitu nasi lengkap dengan ayam panggang yang memiliki filosofi mendalam.
Menurut Pak Jahok, potongan dalam sajian tersebut melambangkan perempuan dan laki-laki yang bersinergi dengan alam semesta sebagai simbol keseimbangan kehidupan serta permohonan keberkahan kepada Tuhan.
Selain itu, terdapat pula tradisi Bu Ujang yang melibatkan lima dusun. Setiap dusun membawa satu paket Bu Idang untuk kemudian disantap bersama dalam suasana kebersamaan.
“Lima dusun menyerahkan satu paket Bu Idang, lalu kita makan bersama dan berdoa bersama. Intinya mempererat silaturahmi sekaligus mengenang kebaikan dan ajaran budi luhur leluhur,” jelasnya.
Untuk pelaksanaan tahun ini, kegiatan akan digelar pada 20 Maret di Lapangan Bola Desa Bintet. Pemilihan lokasi tersebut karena masyarakat adat Mapur Pamong hingga kini belum memiliki tempat khusus atau sanggar budaya untuk melaksanakan kegiatan adat.
“Kami belum punya lapangan khusus atau sanggar, jadi sementara kami adakan di lapangan bola Desa Bintet. Tempat kami berkumpul sekarang juga masih menumpang di bekas warung,” ungkapnya.
Meski dengan berbagai keterbatasan, Pak Jahok bersama masyarakat tetap berupaya menjaga tradisi tersebut agar tetap hidup. Ia juga menyebut adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari Kecamatan Belinyu dan Generasi Emas Indonesia (GESID) Bangka Belitung yang turut mendorong pelestarian budaya tersebut.
“Saya hanya tamatan SMP, mungkin untuk urusan birokrasi saya terbatas. Tapi saya punya amanat dari leluhur agar tradisi ini jangan sampai hilang. Dengan kemampuan yang ada, kami tetap berusaha mempertahankan tradisi ini,” tutupnya.
Tradisi Titang Tua menjadi, bagian penting dari identitas budaya masyarakat Mapur Pamong yang sarat nilai spiritual, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur yang terus dijaga hingga kini. (I20/INC)











